FOREX Economic News

Pertumbuhan Laba Industri Cina September Melemah, Sinyalemen Pemulihan yang Rentan

Pertumbuhan laba di perusahaan industri Cina melambat pada bulan September dari laju bulan sebelumnya karena beberapa sektor menunjukkan pelemahan aktivitas, mengindikasikan ekonomi terbesar kedua di dunia ini tetap kurang bertenaga meskipun munculnya tanda-tanda stabilitas.

Keuntungan pada bulan September naik 7,7% menjadi 577.1 milyar yuan, melambat tajam dari bulan lonjakan 19,5% pada bulan Agustus, menurut data yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional (NBS) Cina di situsnya, pada Kamis.

Laba dalam industri seperti elektronik, baja dan listrik dilanda penurunan yang signifikan dalam pertumbuhan, menurut He Ping, seorang pejabat NBS dalam catatan yang menyertai data.

Pertumbuhan laba Agustus menandai laju tercepat dalam tiga tahun, dibantu oleh dorongan Beijing pada proyek-proyek infrastruktur dan booming industri real estate.

Efek tingkat dasar dari crash pasar saham pada tahun 2015 memudar pada bulan September, ungkap NBS.

Total keuntungan untuk sembilan bulan pertama berada di 4.64 triliun yuan ($684.77 milyar), naik 8,4% dari periode yang sama tahun lalu, laju yang sama seperti pada periode Januari-Agustus.

indikator terbaru menunjukkan ekonomi Cina telah mulai stabil, seiring tumbuh 6,7% pada kuartal ketiga dari tahun sebelumnya, dimana sama dari kuartal sebelumnya, dengan peningkatan belanja pemerintah dan booming properti diimbangi lemahnya ekspor.

Tapi kelebihan kapasitas industri, terutama di sektor tradisional, telah menjadi hambatan pada tingkat keuntungan dalam beberapa bulan terakhir dan analis mengatakan prospek pendapatan di sektor ini bisa bergantung pada kemajuan yang dibuat oleh pembuat kebijakan untuk memotong kapasitas.

Beijing telah memulai kampanye untuk memotong kapasitas di sektor batu bara dan baja dalam transformasi perekonomian paling signifikan dalam dua dekade.

Kewajiban perusahaan industri Cina pada akhir September yang 4,7% lebih tinggi dari pada titik yang sama tahun lalu.

Data ini mencakup perusahaan besar dengan pendapatan tahunan lebih dari 20 juta yuan dari operasi utama mereka, seperti yang dikutip dari Reuters.

Kesalahan Para Trader Forex Yang Seharusnya Tidak Perlu Dilakukan Saat Ini

Pertumbuhan Laba Industri Cina September Melemah, Sinyalemen Pemulihan yang Rentan

Pertumbuhan laba di perusahaan industri Cina melambat pada bulan September dari laju bulan sebelumnya karena beberapa sektor menunjukkan pelemahan aktivitas, mengindikasikan ekonomi terbesar kedua di dunia ini tetap kurang bertenaga meskipun munculnya tanda-tanda stabilitas.

Keuntungan pada bulan September naik 7,7% menjadi 577.1 milyar yuan, melambat tajam dari bulan lonjakan 19,5% pada bulan Agustus, menurut data yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional (NBS) Cina di situsnya, pada Kamis.

Laba dalam industri seperti elektronik, baja dan listrik dilanda penurunan yang signifikan dalam pertumbuhan, menurut He Ping, seorang pejabat NBS dalam catatan yang menyertai data.

Pertumbuhan laba Agustus menandai laju tercepat dalam tiga tahun, dibantu oleh dorongan Beijing pada proyek-proyek infrastruktur dan booming industri real estate.

Efek tingkat dasar dari crash pasar saham pada tahun 2015 memudar pada bulan September, ungkap NBS.

Total keuntungan untuk sembilan bulan pertama berada di 4.64 triliun yuan ($684.77 milyar), naik 8,4% dari periode yang sama tahun lalu, laju yang sama seperti pada periode Januari-Agustus.

indikator terbaru menunjukkan ekonomi Cina telah mulai stabil, seiring tumbuh 6,7% pada kuartal ketiga dari tahun sebelumnya, dimana sama dari kuartal sebelumnya, dengan peningkatan belanja pemerintah dan booming properti diimbangi lemahnya ekspor.

Tapi kelebihan kapasitas industri, terutama di sektor tradisional, telah menjadi hambatan pada tingkat keuntungan dalam beberapa bulan terakhir dan analis mengatakan prospek pendapatan di sektor ini bisa bergantung pada kemajuan yang dibuat oleh pembuat kebijakan untuk memotong kapasitas.

Beijing telah memulai kampanye untuk memotong kapasitas di sektor batu bara dan baja dalam transformasi perekonomian paling signifikan dalam dua dekade.

Kewajiban perusahaan industri Cina pada akhir September yang 4,7% lebih tinggi dari pada titik yang sama tahun lalu.

Data ini mencakup perusahaan besar dengan pendapatan tahunan lebih dari 20 juta yuan dari operasi utama mereka, seperti yang dikutip dari Reuters.

Ekspor Korea Merosot 8.3% Bulan September

Ekspor KorSel menyusut untuk bulan kesembilan berturut-turut di bulan September atas permintaan global yang lesu, menurut data sementara dari Departemen Perdagangan, Industri dan Energi.

Ekspor turun 8.3% dari tahun sebelumnya menjadi $43.51 milyar, setelah direvisi jatuh 14.9% pada bulan Agustus, data menunjukkan.

Ekspetasi pasar memperkirakan adanya penurunan sebesar 9.4%.

Pengiriman luar negeri melemah dan menjadi kekhawatiran bagi Korea, yang mendapatkan setengah dari pertumbuhan output dan ekspor. 

Permintaan global yang lemah, perlambatan China dan pemulihan yang juga lemah dari zona euro telah membebani ekspor.

Impor anjlok 21.8% dari tahun sebelumnya menjadi $34.56 milyar di bulan September, menyusul penurunan 18.3% di bulan Agustus. 

Surplus perdagangan melebar menjadi $8.94 milyar di bulan September dari bulan sebelumya $4.27 milyar.

Penjualan Ritel Jepang Naik 0.8%

Penjualan ritel Jepang naik 0.8% pada bulan Agustus dari tahun sebelumnya, kata pemerintah di hari Rabu, meskipun konsumsi domestik tetap lamban, tapi wisatawan dari China, telah membantu mendorong penjualan di gerai ritel besar di kota-kota besar.

Angka tersebut mengikuti kenaikan 1.8% pada bulan Juli, menurut data yang dirilis oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri.

Penjualan ritel skala besar naik 1.8% per tahun, setelah penyesuaian untuk perubahan jumlah toko, menurut data yang dirilis oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri.

Pengeluaran rumah tangga tertahan, menyusul adanya peningkatan pajak penjualan nasional pada bulan April 2014 dan penurunan tajam dalam nilai yen. Lemahnya yen telah membuat barang-barang impor seperti makanan, lebih mahal dibandingkan di toko sehingga hal ini mengurangi daya beli konsumen.

Pengeluaran rumah tangga juga telah terbebani oleh pertumbuhan upah yang lamban. Perusahaan-perusahaan Jepang enggan untuk berkomitmen tentang upah besar, menyusul ketidakpastian tentang prospek ekonomi Jepang dan global.